Berabad-abad lalu, rempah Nusantara mengubah arah sejarah dunia. Pala, cengkeh, dan lada sebagai “emas hijau” yang mengundang bangsa-bangsa Eropa menyeberangi samudra, menancapkan bendera kolonial, dan merampas kedaulatan. Ironisnya, di era globalisasi bernilai miliaran dolar, Indonesia yang memiliki lebih dari 400 jenis rempah dan herbal justru sering hanya menjadi penonton. Lantas, mengapa bangsa yang pernah jadi pusat perdagangan dunia kini kalah bersaing dengan India, Vietnam, dan Tiongkok?
Buku Di Atas Bendera Rempah dan Herbal Indonesia hadir untuk membongkar paradoks tersebut. Mengulas jejak kolonialisme rempah, memetakan potensi ekonomi hingga Rp9.000 triliun, dan menunjukkan bagaimana rempah bisa menjadi industri farmasi, kosmetik, wellness, bahkan diplomasi budaya.
Pembaca akan dikenalkan dengan gagasan BANREHI (Badan Rempah dan Herbal Indonesia) sebagai strategi baru: regulator, pusat riset, promotor global, hingga mesin pencipta lapangan kerja. Lebih jauh, rempah dan herbal ditawarkan sebagai identitas nasional baru, simbol kedaulatan ekonomi, dan instrumen menuju Indonesia Emas 2045.
Kini, apakah kita rela rempah hanya jadi kenangan sejarah, atau siap mengibarkannya kembali sebagai bendera kebangkitan bangsa?






Reviews
There are no reviews yet.