Lidah sering kali menjadi jembatan pertama antara manusia dan budaya baru. Kuliner Semarang dan Cita Rasa Mereka mengajak pembaca menelusuri bagaimana rasa menjadi bahasa sosial, alat adaptasi, dan cermin identitas. Melalui kisah lumpia, tahu gimbal, nasi ayam, hingga bandeng presto, buku ini membuka lapisan makna di balik setiap piring yang tersaji di kota pelabuhan yang tumbuh dari pertemuan budaya dan perdagangan.
Berangkat dari pengalaman mahasiswa perantau di Semarang, penulis menelusuri bagaimana persepsi terhadap kuliner tradisional membentuk cara mereka memahami kota, membangun pertemanan, dan menegosiasikan identitas. Buku ini adalah perjalanan memahami manusia melalui makanan.
Mari menelusuri Semarang lewat lidah, menemukan bagaimana rasa mampu menyatukan perbedaan, menumbuhkan empati, dan menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Reviews
There are no reviews yet.
Be the first to review “Kuliner Semarang dan Cita Rasa Mereka”Cancel Reply
Reviews
There are no reviews yet.